Sunday, 22 June 2014
Thursday, 5 June 2014
materi tentang akhlak
AKHLAK
1.
Pengertian akhlak
Akhlak secara bahasa berasal dari kata khalaqa, yang kata
asalnya khuluqun, yang berarti: perangai,tabiat, adat atau khalqun yang berarti
kejadian, buatan, ciptaan. Jadi secara etimologi akhlak itu berarti perangai,
adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat. Akhlah adalah sifat-sifat dan
perangai yang diumpamakan pada manusia sebagai gambaran batin yang bersifat
maknawi dan rohani.
Menurut istilah,
akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan
spontan tanpa dipikir dan direnung lagi. Dengan demikian akhlak pada hakikatnya
adalah sikap yang melekat pada diri mausia, sehingga manusia dapat
melakuakannnya tanpa berfikir (spontan).
Didalam khazanah pemikiran tasawuf terdapat ungkapan “al-akhlaq bidayah at-tashawwuf wa
at-tashawwuf nihayah al-akhlaq”, yakni akhlak adalah permulaan tasawuf, dan
tasawuf adalah tujuan akhir atau puncak dari akhlak.
2.
Aplikasi akhlak
dalam kehidupan
A.
Akhlak terhadap
Allah
Akhlak terhadap Allah merupakan pondasi atau dasar dalam
berakhlak terhadap siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang tidak
memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki
akhlak positif terhadap siapapun.
Akhlak terhadap Allah SWT, yaitu:
a)
Taat
terhadap perintahNya.
Taat adalah patuh kepada segala perintahNya dan menjauhi
segala laranganNya. Allah yang telah memberikan segala-galanya pada diri kita,
makanya kita wajib menaatiNya. Allah berfirman (QS. 4 : 65):
“Maka demi Rab-mu, mereka pada
hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
b)
Beriman
Beriman adalah
meyakini wujud dan kekuasaan Allah serta meyakini apa yang difirmankanNya.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ
عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ
وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلَالًا بَعِيدًا
“Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sagat jauh tersesat.”(An Nisaa’ (4): 136)
c)
Ikhlas
Iklas adalah
semata-mata mengharap ridha Allah. Jadi segala apa yang kita lakukan itu
semata-mata hanya mengharap ridha Allah SWT.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
"sungguh mempesona perkara orang beriman, karena segala
urusannya adalah dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia
bersyukur, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi
dirinya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal
tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya". (HR. Bukhari)
d)
Bersyukur
Syukur yaitu memuji
sang pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukurnya seorang hamba
berkisar atas tiga hal (mengakui nikmat dalam batin, membicaraknnya secara
lahir, dan menjadikannya sebagai sarana taat kepada Allah), yang jika ketiganya
tidak berkumpul maka tidaklah dinamakan syukur.
e)
Taubat
Taubat berarti kembali, yaitu kembali dari sesuatu yang
buruk ke sesuatu yang baik.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat
dan orang-orang yang menyucikan diri" (al-Baqarah,2:222)
Dalam Al-qur’an Allah berfirman (QS. 3 : 135):
"Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon
ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain
Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka
mengetahui."
f)
Banyak
membaca al-qur’an
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan kepada kita:
"Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an
itu dapat memberikan syafaat di hari kiamat kepada para pembacanya." (HR.
Muslim)
Toto suryana (1996: 148)
mengemukakan perilaku kepada Allah sebagai berikut:
a)
Syukur
Syukur mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat
yang telah diberikanNya.
b)
Bertasbih
Bertasbih adalah
mensucikan Allah dengan ucapan seperti memperbanyak mengucapkan “subhanallah”
dan menjauhkan perilaku yang dapat mengotori nama Allah Yang Maha Suci.
c)
Istighfar
Istighfar yaitu
meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang pernah dibuat dengan ucapan “astaghfirullah
alaadzim”, sedangkan istighfar melalui perbuatan dilakukan dengan cara tidak
mengulangi dosa atau kesalahan yang tlah dilakukan.
d)
Takbir
Takbir
yaitu mengagungkan Allah dengan membaca Allahu Akbar.
e)
Do’a
Do’a yaitu meminta
kepada Allah apa yang diinginkan dengan cara yang baik sebagaimana yang
dicontohkan oleh Rasulullah.
Menurut kahar
mansyur dalam bukunya yang berjudul “Membina Moral dan Akhlak” bahwa akhlak
terhadap Allah, itu antara lain :
a.
Cinta
dan ikhlas kepada Allah SWT.
b.
Berbaik
sangka kepada Allah SWT.
c.
Rela
terhadap qadar dan qada (takdir baik dan buruk) dari Allah SWT.
d.
Bersyukur
atas nikmat Allah SWT.
e.
Bertawakal/berserah
diri kepada Allah SWT.
f.
Senantiasa
mengingat Allah SWT.
g.
Memikirkan
keindahan ciptaan Allah SWT.
h.
Melaksanakan
apa-apa yang di perintahkan Allah SWT.
B.
Akhlak terhadap diri sendiri
Robert C. Solomon mengatakan bahwa etika meliputi hidup
baik, menjadi orang yang baik berbuat baik, menginginkan hal-hal yang baik
dalam hidup ini. Pengertian etika yang paling tentang diri adalah diri sebagai
pelaku, pelaku tindakan. Diri sebagai pelaku di bedakan, misalnya dengan diri
sebagai “yang mengetahui”. Para pelaku bertanggung jawab atas tindakannya, para
pengamat semata-mata mencatat apa saja yang mereka lakukan.
Contoh
yang di ambilkan dari ayat-ayat Allah dalam al-quran sebagai berikut :
1)
Sabar
Kesabaran tidak bisa di paksakan begitu saja dalam pribadi
seseorang, melainkan ada beberapa factor :
a)
Keberanian
: seseorang dapat bersabar terhadap sesuatu jika dalam jiwanya ada keberanian.
b)
Kekuatan
: seseorang dapat bersabar terhadap segala sesuatu jika dalam dirinya tersimpan
sejumlah kekuatan.
c)
Kesadaran
dan pengetahuan : kesadaran adalah sumber kesabaran. Jika seseorang tahu dan
sadar akan manfaat suatu pekerjaan bahwa dia dapat bersabar dalam
mengerjakannya.
2)
Syukur
Menurut Muslim Nurdin syukur adalah sikap dan prilaku yang
menunjukkan penerimaan terhadap suatu pemberian dalam bentuk pemanfaatan dan
penggunaan yang sesuai dengan kehendak pemberinya. Syukur kepada Allah dapat di
ungkapkan melalui dua cara, ucapan dan perbuatan. Orang yang tidak mensyukuri
nikmat Allah di sebut kufur. Orang yang kufur terhadap nikmat adalah orang
sombong, merasa dirinya besar dan berkuasa.
3)
Tawadhu’
(rendah hati)
Seseorang yang menilai posisi kedudukannya dengan realitas
selalu terhadap orang lain. Selalu menyukai nilai-nilai baik yang ada pada
orang lain dan menerima kebenaran. Dia tidak pernah sombong.
4)
Benar
Sikap benar adalah salah satu fadhilah yang menentukan
status dan kemajuan perseorangan dan masyarakat. Menegakakn prinsip kebenaran
adalah salah satu sendi kemaslahatan dalam hubungan antarta satu golongan engan
yang lainnya.
5)
Amanah
Amanah artinya kesetiaan, ketulusan, dan kepercayaan. Yang
di maksud dengan amanah disini adalah suatu sifat adalah suatu sikap pribadi
yang setia, tulus hati dalam melakanakan ssuatu yang di percayakan kepadanya
berupa harta benda, rahasia, maupun tugas dan kewajiban.
C.
Akhlak kepada keluarga
1)
Berbakti
kepada ibu dan bapak
Ibu dan bapak adalah perantara seorang anak lahir kedunia,
kemudian ibu dan bapak merawat dan mendidiknya sampai dewasa dan mandiri.
Karena itu islam mewajibkan anak berbakti kepada ibu dan bapak.
2)
Adil
terhadap saudara
Sifat dan sikap adil ada dua macam. Adil yang berhubungan
dengan perseorangan dan adil yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan
pemerintahan. Adil yang berhubungan dengan perseorangan ialah tidakan yang
memberikan hak kepada yang mempunyai hak. Sedangakan adil dalam segi
kemasyarakatan dan pemerintahan, misalnya tindakan hakim yang menghukum
orang-orang jahat sepanjang neraca keadilan. Pemerintahan di pandang adil jika
mengusahakan kemakmuran rakyat secara merata.
3)
Mendidik
anak
Anak adalah amanah yang harus dirawat, di pelihara, dan
dididik dengan penuh kasih sayang. Mendidik anak adalah kewajiban orang tua
yang paling utama yang meliputi pendidikan fisik dan rohani.
Saturday, 31 May 2014
makiyyah dan madaniyyah
- Pengertian Makiyyah dan Madaniyyah.
Studi tentang ayat- ayat Makkiyah dan Madinyah sesungguhnya tidak
lebih dari memahami penggelompokan ayat- ayat Al-Quran berdasarkan waktu
dan tempat turunya sebuah atau beberapa buah ayat Al-Quran. Al-Qur’an
turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun dan sebagian besar diterima oleh Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلاً
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur
agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami
menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa’: 106)
Oleh karena itu para ulama membagi Al-Qur’an menjadi dua bagian,
yaitu : Makkiyah dan Madaniyah. Makkiyah adalah wahyu (surat dan ayat)
yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd SAW sebelum berhijrah ke Madinah,
yaitu 12 tahun 5 bulan 13 hari. Yakni dari 17 Ramadhan tahun 41 dari
Milad hingga awal Rabi’ul awwal tahun 54 dari Milad Nabi.
Madaniyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW setelah
berhijrah ke Madinah. Yaitu selama 9 tahun 9 bulan 9 hari. Yaitu dari
permulaan Rabi’ul Awal tahun 54 dari Milad Nabi , hingga 9 Dzulhijjah
tahun 63 dari Milad Nabi, atau tahun 10 Hijra.
Berdasarkan hal tersebut maka firman Allah ‘Azza wa Jalla:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama
bagimu.” (Al-Maa’idah: 3)
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur
selama kurang lebih 23 (dua puluh tiga) tahun. Ayat-ayat dan
suart-surat dalam Al-Qur’an terbagi menjadi beberapa bagian sesuai
dengan perbedaan tempat turunnya, waktu, sebab dan kondisinya.
Sebagian besar surat dan ayat Al-Qur’an itu Makkiyah dan sebagian
lagi Madaniyah. Surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah disebut surat
Makkiyah dan yang diturunkan setelah Nabi hijrah disebut surat
Madaniyah. Walaupun turunnya di luar kota Madinah, atau bahkan dikota
Mekah itu sendiri. Surat Makkiyah merupakan bagian terbesar dari
surah-surah Al-Qur’an, khususnya surat-surat pendek.
Sebagian surat dan ayat Al-Qur’an ada yang diturunkan ketika Nabi
sedang melakukan perjalanan (safar), dan sebagian lagi ketika beliau
tidak sedang dalam bepergian. Begitu juga ada yang diturunkan diwaktu
malam hari dan ada yang turun di waktu siang hari. Ada yang turun
diwaktu perang dan ada juga yang turun diwaktu damai. Ada yang turun
dibumi dan ada yang turun dilangit. Ada yang turun ketika nabi berada
ditengah-tengah orang banyak dan ada yang turun ketika beliau sedang
sendirian.
Pengertian Surat Makiyah dan Madaniyah Ada tiga pengertian yang
dipakai para ulama’ dalam mengartikan surat makiyah dan madaniyah, yaitu
:
Pertama: Surat Makiyah adalah yang diturunkan di Makkah
walaupun turunnya itu setelah hijrah. Yang termasuk turun di Makkah
adalah daerah-daerah yang masih dalam kawasan Makkah, seperti di Mina,
Arafah, dan Hudaibiyah.
Sedangkan surat Madaniyah adalah yang diturunkan di Madinah. Yang
termasuk turun di Madinah adalah seperti di kawasan Badar dan Uhud.
Pembagian ini berdasarkan tempat turunnya Al-Qur’an (segi makani),
tetapi hal ini tidak bisa dijadikan patokan atau batasan, karena hal ini
tidak mencakup ayat-ayat yang diturunkan di selain Makkah dan Madinah.
Tidak diragukan lagi bahwa tidak adanya batasan dalam pembagian itu
menyebabkan tidak masuknya sejumlah ayat yang diturunkan diantara
keduanya. Dan yang demikian ini mengandung cacat.
Kedua: Surat Makiyah adalah yang mengkhitobi penduduk Mekkah,
sedangkan ayat Madaniyah adalah yang mengkhotobi penduduk Madinah. Dari
pengertian ini, dapat difahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai
dengan ياايهاالناس adalah ayat Makiyah, dan ayat-ayat yang dimulai
dengan ياايهاالذين امنوا adalah termasuk ayat Madaniyah. Karena
kebanyakan orang kafir itu dari penduduk Makkah, meskipun dari penduduk
Madinah juga ada yang kafir.
Sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan dari penduduk Madinah,
walaupun dari penduduk Mekah juga ada yang beriman. Pembagian ini
didasarkan pada mukhotobnya (segi khitobi), tetapi ketentuan tadi
mengecualikan dua hal :
1. Tidak adanya patokan dan batasan. Sebenarnya permulaan surat dalam
Al-Qur’an tidak hanya dimulai dengan salah satu kedua lafadz tersebut.
Sebagaimana dalam permulaan suratal-Munafiqun: اذاجاءك المنافقون
قالوانشهدانك لرسول الله والله يعلم انك لرسوله والله يشهد ان المنا فقين
لكادبون. (المنا فقون:1) Artinya : “Apabila orang-orang munafik datang
kepadamu,mereka berkata:”Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu
benar-benar Rosul Allah”. Dan Allah mengetahui sesungguhnya kamu
benar-benar Rosul-Nya; Dan Allah mengetahui sesungguhnya orang-orang
munafik itu benar-benar orang pendusta.(QS.Al-Munafiqun:1).
2. Pembagian ini tidak berlaku secara umum dalam kedua sighot
tersebut, melainkan terdapat ayat-ayat Madaniyah yang dimulai dengan
sighot “Yaa Ayyuhan Naasu”dan terdapat ayat-ayat Makiyah yang dimulai
dengan “Yaa Ayyuhal Ladziina Amanu”. Contoh yang pertama QS. An-Nisa’.
Sebenarnya surat ini termasuk surat Madaniyah, namun permulaannya “Yaa
Ayyuhan Nasu taku Robbakum”. Sedangkan contoh yang kedua adalah QS.
Al-Hajj. Sebenarnya surat ini termasuk dalam kelompok surat Makiyah.
Namun pada bagian akhir terdapat : يـــا ايها الذ ين امنوا ار كعوا واسجد
وا . Sehingga sebagian ulama mengatakan, apabila yang dimaksud adalah
sebagian besar ayat itu dimulai dengan ungkapan tersebut, maka yang
demikian itu adalah benar.
Ketiga: Ayat Makiyah adalah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW sebelum nabi hijrah, walaupun turunnya di lain kota Mekah.
Sedangkan ayat Madaniyah adalah yang diturunkan setelah nabi hijrah,
walaupun turunnya di Makkah. Pembagian ini dilihat dari waktu turunnya
(segi zamani). Pembagian ini adalah pembagian yang benar dan selamat
dari cacat, karena di sini terdapat patokan dan batasan yang barlaku
secara umum.Oleh karena
itu,kebanyakan ulama’ berpegang pada pendapat ini. Sebagaimana firman
Allah SWT: اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام
دينا Artinya : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamu,dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu
menjadi agama bagimu.(Al-maidah:3) Ayat ini diturunkan pada hari Jum’at
di Arafah ketika haji Wada’, tetapi ayat ini termasuk ayat madaniyah.
Sekalipun definisi di atas pada dasarnya merupakan bagian dari usaha
pengklasifikasian ayat- ayat Al- Quran. Dengan pengklasifikasian yang
teliti berdasarkan tempat dan waktu turunya ayat, akan diketahui
ayat-ayat mana saja yang turun lebih dahulu dan turun kemudian.
- Faedah Mengetahui Surat Makiyah dan Madaniyah
Selanjutnya akan diketahui pula kronologi turunnya ayat atau ayat-
ayat tertentu. Dari pengetahuan mengenai Makkiyah dan Madaniyah ini,
sekurang- kurangnya ada beberapa faidah dalam mengetahui surat makiyah
dan madaniyah, yaitu :
- Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan mentafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan mana nasikh dan mana mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Contoh: والذين يتوفّون منكم ويذرون ازواجا وصية لازوجهم متاعا الى الحول(البقرة :240) Dinasikh dengan ayat: يتربصن بانفسهن اربعة اشهر وعشرا(البقرة :234) 2
- Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa sendiri.
- Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rosululloh sejalan dengan sejarah dakwah beserta segala peristiwanya.
- Mengetahui tarikh tasyri’ dan pemantapan dalam mentasyri’kan hukum secara umum.
- Percaya bahwa AL-Qur’an telah sampai kepada kita terhindar dari perubahan dan pembelokan. Oleh karena itu perlu bagi orang-orang islam mengetahuinya dengan seksama, sehingga mereka bisa mengatahui, dan kemudian beralih mengetahui ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah dan sesudah hijrah, ayat-ayat yang diturunkan pada siang hari dan pada malam hari,dst.
- Agar dapat meningkatkan keyakinan terhadap kebenaran, kesucian dan keaslian al-Qur’an.
Dr Subhi Shalih dalam bukunya “Mabahits fi Ulumil Qur’an” mengatakan bahwa faedah dari ilmu ini adalah:
- Dapat mengetahui fase-fase dari da’wah islamiyah yang ditempuh oleh Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan sangat bijaksana.
- Dapat mengetahui situasi dan kondisi lingkungan masyarakat pada waktu turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya masyarakat Mekkah dan Madinah.
- Dapat mengetahui Uslub-uslub bahasanya yang berbeda, karena ditujukan kepada golongan-golongan yang berbeda.
Di setiap sudut atas lembaran Alqur’an selalu ditemukan keterangan
surah al-makkiyah dan surah al-madaniyah. Demikian pula dalam Alquran
dan Tarjamah sumbangan King Abdul Aziz Saudi Arabia, keterangan
makkiyyah dan madaniyah ditulis secara khusus dalam muqaddimah.
al-Makkiyah dan al-Madaniah merupakan salah satu tema penting dalam
pembahasan ‘Ulum al-Qur`an. Semua ulama sejak dulu hingga sekarang tidak
pernah melewatkan tema ini, khususnya dalam konteks penafsiran
Al-Qur’an. Kepentingannya terasa sangat diperlukan terutama terkait
dengan bagaimana memahami kandungan Al-Qur’an. Munculnya beberapa
kekeliruan dalam penafsiran disinyalir karena tidak menggunakan pijakan
kronologi sejarah pewahyuan, baik yang terkait dengan asbab al-nuzul,
al-makkiyah dan al-madaniyah maupun al -nasikh wa al-mansukh. Istilah
Makkiyyah dan Madaniyah sebenarnya diambil dari dua nama kota Makkah dan
Madinah, tempat Rasulullah menerima wahyu Al-Qur’an. Penggunaan dua
nama kota tersebut dalam tema ‘Ulum al-Qur`an dimaksudkan untuk
menginformasikan ada wahyu yang turun di Makkah dan ada pula yang turun
di Madinah atau di tempat lain.
- C. Cara-cara Mengetahui Surat Makiyah dan Maddaniyah.
Untuk mengetahui surat Makiyah dan Madaniyah para ulama’ bersandar pada dua cara utama :
- Sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya), yakni melalui riwayat yang berasal dari sahabat dan tabi’in, karena Nabi saw. Tidak pernah menjelaskan ayat Makiyah dan Madaniyah. Hal ini karena umat Islam pada waktu itu tidak memerlukan keterangan seperti itu. Bagaimana mereka masih memerlukannya? Padahal mereka menyaksikan sendiri diturunkannya wahyu dan Al-Qur’an, menyaksikan tempat turunnya, waktunya, sebab-sebab diturunkannya secara jelas. “Yang sudah jelas tidak memerlukan penjelasan lagi.”
- Qiyasi ijtihadi (qiyas hasil ijtihad), yakni didasarkan pada ciri-ciri Makiyah dan Madaniyah. Apabila dalam surah Makki terdapat suatu ayat yang mengandung sifat madani atau mengandung peristiwa madani, maka dikatakan bahwa ayat itu madani. Dan apabila dalam surah madani terdapat suatu ayat yang mengandung sifat makki atau mengandung peristiwa makki, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat makki. Bila dalam satu surah terdapat ciri – ciri makki, maka surah itu dinamakan surah makki. Demikian pula bila dalam satu surah terdapat ciri – ciri madani, maka surah itu dinamakan surah madani. Inilah yang disebut qiyas istihadi
- D. Urgensi Pembagian Surat Makkiyah Dan Madaniyah
Madaniyah atau Makkiyah (penetapan aghlabiyah) dan penetapan
berdasar pada surat apakah diawali dengan ayat yang turun di mekkah atau
madinahsehingga ditentukan dengan berdasar pada muatan ayat awal pada
surat,apakah Makkiyah atau Madaniyah (penetapan kontinuitas)Masih
terkait dengan pengklasifikasian surat dalam A1-Qur’an.
Ternyata,banyak manfaat yang didapatkan dalam menekuni
pengklasifikasiannya.diantaranya menurut al-Zarqani di dalam kitabnya
yang berjudul Manahilul‘Irfan yaitu “kita dapat membedakan dan
mengetahui ayat yang Manshuk danNasikh. Yakni, apabila terdapat dua ayat
atau lebih mengenai suatu masalah,sedang hukum yang terkandung di
dalam ayat-ayat itu bertentangan.
Kemudian dapat diketahui, bahwa ayat yang satu Makkiyah, sedang
yanglainnya Madaniyah; maka sudah tentu ayat yang Makkkiyah itulah
yangdinasakh oleh ayat yang Madaniyah, karena ayat yang madaniyah adalah
yangterakhir turun”.
Urgensi mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut :
- Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al Qur`an. Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh, bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh yang tedahulu.
- Meresapi gaya bahasa Al-Quran dan memanfaatkannya dalam metode dakwah menuju jalan Allah. Sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti paling khusus dalam retorika. Karakteristik gaya bahasa makkiyah dan madaniyah dalam Al-Quran pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaaannya serta menguasai apa yang ada dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan.
- Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur`an. Sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik dalam periode Mekkah maupun Madinah. Sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Al-Qur`an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah SAW, perihal hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan Al-Quran.
- Membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dengan mengetahui kronologis Al-Qur’an seorang mufassir dapatmemecahkan makna kontrakdiktif dalam dua ayat yang berbeda yaitudengan konsep Nasikh-Mansukh.
- Pedoman bagi langkah-langkah dakwa. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda pada ayat Makiyyah dan Madaniyyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan mustami’. Memberi informasi tentang Sirah KenabianAl-Qur’an adalah rujukan Otentik bagi perjalanan Dakwah Nabiyang tidak diragukan lagi. Perjalanan dakwah Nabi ini berjalan seiringdengan penahapan turunnya wahyu baik di Mekkah atau Madinah.
- Dapat mengetahui dengan jelas sastra Al-Qur’an pada puncak keindahannya, yaitu ketika setiap kaum diajak berdialog yang sesuai dengan keadaan obyek yang didakwahi ; dari ketegasan, kelugasan, kelunakan dan kemudahan.
- Dapat mengetahui puncak tertinggi dari hikmah pensyariatan diturunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan prioritas terpenting kondisi obyek yang di dakwahi serta kesiapan mereka dalam menerima dan taat.
- Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing
- Dapat membedakan antara nasikh dan mansukh ketika terdapat dua buah ayat Makkiyah dan Madaniyah, maka lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat Madaniyah adalah sebagai nasikh (penghapus) ayat Makkiyah disebabkan ayat Madaniyah turun setelah ayat Makkiyah.
Kegunaan dan manfaat mengetahui Surat Makkiyah dan Surat Madaniyah
banyak sekali dan merupakan cabang ilmu-ilmu Al-Qur’an yang sangat
penting untuk diketahui dan dikuasai oleh seorang mufassir,
sampai-sampai kalangan Ulama al-Muhaqqiqun tidak membenarkan seorang
penafsir Al-Qur’an tanpa mengetahui ilmu Makkiyah dan Madaniyah.
- E. Ciri-ciri Surat Makiyah dan Surat Madaniyah
Ciri-ciri khas untuk surat Makkiyah dan surat Madaniyah ada 2 macam, yaitu yang bersifat qath’i dan bersifat aghlabi.
Ciri-ciri khas yang bersifat qath’i dari surat Makkiyah adalah:
- Setiap surat yang mengandung ayat sajdah.
- Setiap surat yang didalamnya terdapat lafadh “kalla”. Lafadz ini di dalam Al-Qur’an telah disebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surat dan kesemuanya itu dalam separuh Al-Qur’an yang akhir.
- Setiap surat yang terdapat seruan ياايهاالناس kecuali Surat Al-Hajj ayat 77.
- Setiap surat yang terdapat kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali Surat Al-Baqarah.
- Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan Idris, kecuali surat al-Baqarah.
- Setiap surat yang dimulai dengan huruf tahajji (huruf hija’iyah), kecuali surat al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat ar-Ra’d ada dua pendapat. Jika dilihat dari segi uslub dan temanya, maka lebih tepat dikatakan surat Makiyah, tetapi sebagian ulama’ lain mengatakan surat Madaniyah.
Adapun ciri-ciri khas yang bersifat aghlabi dari surat Makkiyah adalah:
- Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek-pendek, nada perkataannya keras dan agak bersajak.
- Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah SWT dan hari akhir serta menggambarkan keadaansurga dan neraka.
- Menyeru manusia berperangai mulia dan berjalan lempeng diatas jalan kebajikan.
- Mendebat orang-orang musyrikin dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka.
- Banyak terdapat lafadh qasam (sumpah).
Sedangkan ciri-ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat qath’i adalah sebagai berikut:
- Setiap surat yang mengandung izin berjihad, atau ada penerangan tentang jihad dan penjelasan tentang hukum-hukumnya.
- Setiap surat yang menjelaskan secara terperinci tentang Hukum Pidana, Fara’idh, Hak-hak Perdata, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan.
- Setiap surat yang didalamnya menyinggung hal ihwal orang munafiq, kecuali surat Al-Ankabut.
- Setiap surat yang mendebat kepercayaan ahli kitab, dan mengajak mereka tidak berlebih-lebihan dalam beragama.
Selain empat ciri di atas, ada lagi ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat aghlabi, yaitu sebagai berikut:
- Suratnya panjang-panjang, dan sebagian ayat-ayatnya pun panjang-panjang serta jelas dalam menerangkan hukum dengan mempergunakan uslub yang terang.
- Menjelaskan secara terperinci bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan hakikat keagamaan.
- Perbedaan antara Makkiyah dan Madaniyah
- Perbedaan Pada Konteks Kalimat.
- Kebanyakan ayat-ayat Makiyyah memakai konteks kalimat tegas dan lugas karena kebanyakan obyek yang didakwahi menolak dan berpaling, maka hanya cocok mempergunakan konteks kalimat yang tegas. Baca surat Al-Muddatstsir dan surat Al-Qamar. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat. Baca surat Al-Maa’idah.
- Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat pendek dan argumentatif, karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari, sehingga konteks ayatpun mengikuti kondisi yang berlaku. Baca surat Ath-Thuur. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan adalah ayat-ayat pendek, penjelasan tentang hukum-hukum dan tidak argumentatif, karena disesuaikan dengan kondisi obyek yang didakwahi. Baca ayat tentang hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.
- Perbedaan Pada Materi Pembahasan
- Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan ; karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari hal itu. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka membutuhkan perincian ibadah dan muamalah.
- Penjelasan secara rinci tentang jihad berserta hukum-hukumnya dan kaum munafik beserta segala permasalahannya karena memang kondisinya menuntut demikian. Hal itu ketika disyariatkannya jihad dan timbulnya kemunafikan, berbeda halnya dengan aya-tayat Makkiyah.
- Karakteristik Ayat Makkiyah
Turunnya surat-surat makiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 ramadhan 40 tahun usia Nabi (Februari 610 M).
Para ulama telah meneliti surat-surat makky dan madany, dan
menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya, yang menerangkan
ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakan.
Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri
tersebut. Adapun ketentuan makky ialah:
- Setiap surat yang di dalamnya mengandung “sajdah”.
- Setiap surat yang mengandung lafal “kalla”, lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur’an. Dan disebutkan dalam tiga puluh tiga kali dan lima belas surat.
- Setiap surat yang mengandung seruan ya-ayyuhan naasu dan tidak mengandung ya-ayyuhalladzina amanu, terkecuali surat al-hajj yang akhirnya terdapat ya-ayyuhalladzina amanu irka’u wasjudu (QS al-hajj: 77). Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat makky.
- Setiap surat yang mengandung kisah para Nabi dan umat terdahulu kecuali surat al-baqarah.
- Setiap surat yang mengandung kisah adam dan iblis, kecuali surat al-baqarah.
- Setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf hijaiyah, seperti alif lam mim, alif lam ra, ha mim dan lain-lain. Terkecuali surat al-baqarah dan ali imran, sedangkan surat ar-rad masih diperselisihkan.
- Sedang dari segi ciri tema dan gaya bahasa atau bisa juga disebut sebagai keistimewaan ayat makkiyah dapat diringkas sebagai berikut:
- Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
- Penetapan dasar-dasar ibadah dan mu’amalah (pidana), etika, keutamaan-keutamaan umum. Diwajibkannya shalat lima waktu, juga diharamkan memakan harta anak yatim secara zalim, sebagaimana sifat takabur dan sifat angkuh juga dilarang, dan tradisi buruk lainnya.
- Menyebutkan kisah Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang-orang yang mendustakan agama sebelum mereka; dan sebagai hiburan bagi Rasulullah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka.
- Suku katanya pendek-pendek disertai dengan kata-kata yang mengesankan, pernyataannya singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan.
- Karakteristik Ayat Madaniyah
Diantara ciri khusus dari surat-surat madaniyah ialah:
- Setiap surat yang berisi kewajiban atau had (sanksi).
- Setiap surat yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang munafik, terkecuali surat al-ankabut yang diturunkan di Makkah adalah termasuk surat makkiyah.
- Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog antara ahli kitab6, seperti dapat kita dapati dalam surat al-baqarah, an-nisa, ali imran, at-taubah dan lain-lain.
- Adapun keistimewaan yang terdapat pada surat madaniyah antara lain adalah sebagai berikut:
- Al-Qur’an berbicara kepada masyarakat Islam Madinah, pada umumnya berisi tentang penetapan hukum-hukum, yang meliputi penjelasan tentang ibadah, mu’amalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional baik diwaktu damai maupun perang, dan lain lain.
- Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka.
- Di dalam masyarakat Madinah tumbuh sekelompok orang-orang munafik, lalu Al-Qur’an membicarakan sifat mereka dan menguak rahasia mereka. Al-Qur’an menjelaskan bahaya mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, serta membeberkan media-media, tipuan-tipuan, serta strategi mereka untuk memperdaya kuam muslim. Di Makkah tidak terdapat kaum munafik, karena saat itu umat Islam sedikit, lemah, sementara orang-orang kafir secara terang-terangan memerangi mereka.
- Pada umumnya ayat-ayat dan surat-suratnya panjang dan untuk menggambarkan luasnya akidah dan hukum-hukum Islam. Orang-orang Madinah adalah orang-orang Islam yang menerima dan mendengarkan al Qur’an.
kemukjizatan al-quran
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kepada Nabi kita, Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam banyak sekali mukjizat. Diantaranya,
terbelahnya rembulan menjadi dua bagian, kerikil yang ada di tangannya
mengucap kalimat tasbih, memancarnya air dari sela-sela jemarinya, serta
beliau mampu mengubah makanan sedikit menjadi banyak hingga mencukupi
kebutuhan orang banyak.
Dan, mukjizat paling agung yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau adalah al-Qur’an. Al-Qur’an al-Adhim adalah mukjizat agung yang memberi khitab (perintah) kepada hati dan akal fikiran, dan dia adalah mukjizat yang kekal abadi sampai hari kiamat nanti. Dan, sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menantang kaumnya yang fasih (lancar dan benar tutur katanya) dan baligh (mendalam makna ucapannya) untuk membuat padanan atau tandingan yang menyerupai al-Qur’an ini, atau minimal satu surat yang menyerupainya, namun mereka tidak sanggup melakukannya. Hal ini dilakukan oleh beliau seiring dengan gencarnya permusuhan mereka yang mendorong mereka untuk menentang/melawan al-Qur’an demi untuk memusnahkan agama (Islam) ini. Akan tetapi, mereka sekali-kali tidak pernah menemukan cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Jika orang-orang Arab saja tidak sanggup membuat kitab tandingan yang menyamai al-Qur’an ini, maka tentunya selain mereka (non Arab) lebih tidak mampu lagi. Hal itu, mengingat orang-orang Arab yang merupakan obyek pertama diturunkannya al-Qur’an tersebut, adalah para pakar yang memiliki kemampuan berbahasa secara fasih dan baligh. Dan, sejarah telah mencatat bahwasanya al-Qur’an merupakan bukti kemukjizatan, maka tidak ada satu pun orang yang mengaku dirinya sanggup membuat kitab yang menyerupai al-Qur’an ini.
“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilaat: 41-42)
”Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 23-24)
Al-Qur’an Sebagai Pola Baru Mukjizat
Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang berbeda dengan mukjizat-mukjizat para rasul seluruhnya. Karena, dia adalah mukjizat yang kekal abadi untuk selamanya, tidak akan musnah bersamaan dengan wafatnya seorang rasul yang menerimanya, sebagaimana al-Qur’an merupakan/berisi kisah tentang keadaan (kondisi) para rasul terdahulu. Dia adalah mukjizat yang memberi khitab (perintah) kepada akal fikiran dan hati, sebagaimana dia juga memberi khitab kepada fitrah manusia sepanjang masa dan tempat. Sungguh mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah mukjizat yang terbaca, yaitu al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tiadalah diantara para nabi seseorang yang diangkat nabi melainkan dia sungguh dikaruniai bukti-bukti (mukjizat) serupa yang telah dipercayai oleh manusia, sedangkan yang dikaruniakan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku, dan aku berharap agar aku menjadi seorang diantara mereka yang paling banyak pengikutnya nanti pada hari kiamat.” [1]) 9 [1] . Muttafaq’alaih, Lihat kitab Misykaat al-Mashaabiih, 3/124
Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak untuk menjadikan mukjizat rasul terakhir ini berupa suatu yang inderawi (hissiyah) yang barangkali akan membuat orang yang melihatnya lupa begitu saja. Kalaupun seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, niscaya Dia pasti menurunkan mukjizat besar yang mampu melipat-lipat leher (baca: menundukkan) orang-orang yang menyaksikannya, sehingga mereka tidak bisa lagi membantah dan mengingkari mukjizat tersebut. ” Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.” (QS. Asy-Syu’araa:4)
Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghendaki agar kerasulan ini menjadi kerasulan yang terbuka bagi umat seluruhnya dan generasi seluruhnya, dan bukan merupakan kerasulan yang tertutup bagi generasi di suatu zaman dan tempat tertentu. Maka, dia juga merupakan mukjizat yang terbuka bagi orang dekat dan jauh, bagi seluruh umat dan seluruh generasi yang ada. Sementara, mukjizat-mukjizat lainnya hanya akan menundukkan orang-orang yang menyaksikannya saja, lalu setelah itu, dia hanya tinggal sebagai kisah yang akan diceritakan, bukan suatu realitas yang kasat mata. Inilah mukjizat Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang setelah lebih dari empat belas abad lamanya masih tetap menjadi kitab yang terbuka dan manhaj yang tertulis. Yaitu, kitab yang dijadikan pegangan/pedoman oleh umat sekarang ini sepanjang hidup mereka –-seandainya mereka diberi petunjuk untuk menjadikannya sebagai pemimpin mereka— dan kitab yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dengan sempurna, serta yang menggiring mereka setelah itu (baca: kematian), ke alam yang lebih baik, cakrawala yang lebih tinggi, dan tempat persemayaman yang lebih ideal.
Beberapa Aspek Kemukjizatan Al-Qur’an
Al-Qur’an bisa dikatakan mukjizat dalam semua aspek dan sudut pandangnya:
Sementara kita pada saat ini mampu menghasilkan ilmu-ilmu yang dapat menyingkap sesuatu yang merupakan bagian dari rahasia-rahasia alam. Maka, kita pun meneliti galaksi (tempat-tempat bintang), peredarannya, bentuknya, dan muatannya, sebagaimana para pakar meneliti proses penciptaan makhluk beserta rahasia-rahasia di balik makhluk-makhluk tersebut. Mereka meneliti atom dan sel tubuh, serta menyelami dasar bumi dan lautan. Namun, tiba-tiba kita dikejutkan oleh tesis yang menyatakan bahwa kebanyakan hakikat yang dicapai oleh para pakar tersebut setelah melalui berbagai kajian yang panjang dan jerih payah yang meletihkan ternyata telah dibicarakan atau telah disinyalir secara jelas oleh al-Qur’an al-’Adhim sebelumnya.
Semua inilah yang semakin menambah dan memperdalam keimanan, dan membuktikan bahwa al-Qur’an al-’Adhim ini diturunkan langsung dari sisi Allah, Dzat Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Al-Qur’an ini adalah perkataan/ucapan sekaligus perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan makhluk adalah buatan dan ciptaan-Nya. Maka, jika Sang Pencipta membicarakan ciptaan-Nya, dan menuturkan sesuatu dari hakikat makhluk ciptaan-Nya tersebut, maka sudah pasti akan terjadi persesuaian antara khabar qauli (berita yang bersifat ucapan) dengan khalq kauni (penciptaan yang bersifat alamiah). Karena, ucapan tersebut adalah ucapan Allah sendiri, dan ciptaan itu pun adalah ciptaan-Nya sendiri.” Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS.Al-”Araaf:54)
Sedangkan jiwa manusia akan sepenuhnya berserah diri manakala mengetahui rahasia-rahasia yang terlupakan yang tidak pernah diketahui oleh manusia sebelumnya. Kemudian, ternyata jiwa tersebut mendapati bahwa Nabi berkebangsaan Arab yang ummi, tidak bisa menulis, tidak bisa membaca, tidak pernah mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, dan tidak pernah belajar pada seorang guru dari keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalaam, membicarakan atau mensinyalir tentang hakikat ilmiah tersebut. Maka, kalau bukan al-Qur’an ini merupakan wahyu dari Sang Pencipta, niscaya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mampu menetapkan hakikat-hakikat samar ini, juga rahasia-rahasia tersembunyi yang tidak pernah diketahui oleh manusia sebelum masa ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang memgingkari(mu).” (QS. Al-’Ankabuut:48)
Pendeta Nasrani Menggunakan Teks-Teks Ilmiah Di Dalam Kitab Taurat Untuk Mengajak Orang-Orang Komunis Masuk Agama Nasrani
Seorang pendeta Nasrani telah menggunakan metode ini dalam mendakwahkan agama Nasrani. Pernah terdapat 12 mahasiswa berasal dari China yang belajar di universitas California, USA, menghadap kepada seorang pendeta yang bernama Barkeley, dan meminta kepadanya agar menyusunkan jadwal kajian mereka seputar agama Nasrani pada hari-hari minggu. Tujuan mereka di balik semua itu, adalah untuk mengenal seberapa jauh pengaruh agama terhadap kebudayaan Amerika.
Lalu, pendeta tersebut memanggil seorang ilmuwan pakar matematika dan astronomi yang bernama Prof. Peter dan Stoner, dan meminta darinya agar menangani masalah pengajaran terhadap para pemuda China tersebut.
Selanjutnya, guru besar dalam bidang matematika dan astronomi ini memilih pembahasan sifr at-takwiin (bagian kitab perjanjian lama tentang penciptaan) dari kitab Taurat. Di dalam pembahasan ini terdapat beberapa maklumat (data) yang membicarakan tentang permulaan alam (kosmos). Sang professor ini tidak mengajarkan Taurat kepada mereka dengan metode tradisional (konvensional), dan dia bersama sejumlah mahasiswa China tersebut menghabiskan musim dingin untuk mempelajari berbagai data tersebut, lalu mereka mencatat dalam setiap kajian tersebut berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak fikiran mereka seputar apa yang mereka dengarkan. Setelah itu, mereka merujuk kepada kitab-kitab ilmiah yang ada di perpustakaan universitas untuk meneliti kebenaran yang telah dibicarakan oleh sifr at-takwiin ini. Yaitu, sebuah tahapan yang merujuk kepada kehidupan sehari-hari Nabi Musa ‘Alaihissalaam sebelum beberapa ribu tahun yang lalu. Dan, setelah melakukan berbagai kajian panjang secara kontinyu, para mahasiswa tersebut akhirnya memeluk agama Nasrani. [2] . Cobalah tengok peristiwa ini di dalam kitab “Al-Islaam Yatahaddaa” karangan Wahiduddin Khan, hal. 121, dan penulis telah menukil dari pengarang kitab tersebut di dalam kitabnya, ” The Evidence of God” P.P. 137-38.
Kita hakikatnya mengimani kitab Taurat dan Injil. Namun, ternyata teks-teks yang terkandung di dalamnya telah banyak mengalami perubahan, penyelewengan, dan penggantian redaksi, yaitu akibat upaya penerjemahan yang dilakukan secara terus-menerus dari satu bahasa ke bahasa lainnya, dan karena ulah tangan para ulama sesat yang telah menyelipkan/memasukkan di dalam kedua kitab ini sesuatu yang bukan darinya, dan sebaliknya mereka membuang dari keduanya teks-teks yang tidak berpihak kepada mereka. Maka, selebihnya adalah kebenaran yang masih tersisa di dalamnya bercampur dengan banyak sekali kebatilan. Sedangkan al-Qur’an adalah kitab samawi yang terakhir, yang tidak pernah berubah-ubah dan berganti-ganti redaksi, dan hakikat-hakikat alam yang terkandung di dalamnya pun sangat banyak dan terbukti kevalidannya.
Beberapa Contoh Dari Kemukjizatan Ilmiah Di Dalam Al-Qur’an
Sebenarnya tulisan dalam konteks semacam ini telah banyak ditulis. Namun, di sini, saya akan menyebutkan beberapa contoh saja. Diantaranya:
Dan, mukjizat paling agung yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau adalah al-Qur’an. Al-Qur’an al-Adhim adalah mukjizat agung yang memberi khitab (perintah) kepada hati dan akal fikiran, dan dia adalah mukjizat yang kekal abadi sampai hari kiamat nanti. Dan, sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menantang kaumnya yang fasih (lancar dan benar tutur katanya) dan baligh (mendalam makna ucapannya) untuk membuat padanan atau tandingan yang menyerupai al-Qur’an ini, atau minimal satu surat yang menyerupainya, namun mereka tidak sanggup melakukannya. Hal ini dilakukan oleh beliau seiring dengan gencarnya permusuhan mereka yang mendorong mereka untuk menentang/melawan al-Qur’an demi untuk memusnahkan agama (Islam) ini. Akan tetapi, mereka sekali-kali tidak pernah menemukan cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Jika orang-orang Arab saja tidak sanggup membuat kitab tandingan yang menyamai al-Qur’an ini, maka tentunya selain mereka (non Arab) lebih tidak mampu lagi. Hal itu, mengingat orang-orang Arab yang merupakan obyek pertama diturunkannya al-Qur’an tersebut, adalah para pakar yang memiliki kemampuan berbahasa secara fasih dan baligh. Dan, sejarah telah mencatat bahwasanya al-Qur’an merupakan bukti kemukjizatan, maka tidak ada satu pun orang yang mengaku dirinya sanggup membuat kitab yang menyerupai al-Qur’an ini.
“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilaat: 41-42)
”Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 23-24)
Al-Qur’an Sebagai Pola Baru Mukjizat
Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang berbeda dengan mukjizat-mukjizat para rasul seluruhnya. Karena, dia adalah mukjizat yang kekal abadi untuk selamanya, tidak akan musnah bersamaan dengan wafatnya seorang rasul yang menerimanya, sebagaimana al-Qur’an merupakan/berisi kisah tentang keadaan (kondisi) para rasul terdahulu. Dia adalah mukjizat yang memberi khitab (perintah) kepada akal fikiran dan hati, sebagaimana dia juga memberi khitab kepada fitrah manusia sepanjang masa dan tempat. Sungguh mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah mukjizat yang terbaca, yaitu al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tiadalah diantara para nabi seseorang yang diangkat nabi melainkan dia sungguh dikaruniai bukti-bukti (mukjizat) serupa yang telah dipercayai oleh manusia, sedangkan yang dikaruniakan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku, dan aku berharap agar aku menjadi seorang diantara mereka yang paling banyak pengikutnya nanti pada hari kiamat.” [1]) 9 [1] . Muttafaq’alaih, Lihat kitab Misykaat al-Mashaabiih, 3/124
Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak untuk menjadikan mukjizat rasul terakhir ini berupa suatu yang inderawi (hissiyah) yang barangkali akan membuat orang yang melihatnya lupa begitu saja. Kalaupun seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, niscaya Dia pasti menurunkan mukjizat besar yang mampu melipat-lipat leher (baca: menundukkan) orang-orang yang menyaksikannya, sehingga mereka tidak bisa lagi membantah dan mengingkari mukjizat tersebut. ” Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.” (QS. Asy-Syu’araa:4)
Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghendaki agar kerasulan ini menjadi kerasulan yang terbuka bagi umat seluruhnya dan generasi seluruhnya, dan bukan merupakan kerasulan yang tertutup bagi generasi di suatu zaman dan tempat tertentu. Maka, dia juga merupakan mukjizat yang terbuka bagi orang dekat dan jauh, bagi seluruh umat dan seluruh generasi yang ada. Sementara, mukjizat-mukjizat lainnya hanya akan menundukkan orang-orang yang menyaksikannya saja, lalu setelah itu, dia hanya tinggal sebagai kisah yang akan diceritakan, bukan suatu realitas yang kasat mata. Inilah mukjizat Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang setelah lebih dari empat belas abad lamanya masih tetap menjadi kitab yang terbuka dan manhaj yang tertulis. Yaitu, kitab yang dijadikan pegangan/pedoman oleh umat sekarang ini sepanjang hidup mereka –-seandainya mereka diberi petunjuk untuk menjadikannya sebagai pemimpin mereka— dan kitab yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dengan sempurna, serta yang menggiring mereka setelah itu (baca: kematian), ke alam yang lebih baik, cakrawala yang lebih tinggi, dan tempat persemayaman yang lebih ideal.
Beberapa Aspek Kemukjizatan Al-Qur’an
Al-Qur’an bisa dikatakan mukjizat dalam semua aspek dan sudut pandangnya:
- Dia merupakan mukjizat dalam susunan ta’bir (penuturan kalimat)nya dan dalam rangkaian seninya berdasarkan keistiqamahan atau konsistensinya terhadap satu kekhususan di dalam satu tingkatan, tidak berbeda-beda dan tidak berlapis-lapis. Dan, kekhususan-kekhususannya tersebut tidak akan terbelakang sebagaimana dia berisikan tentang keadaan perilaku-perilaku manusia. Sekalipun di sana tampak adanya peningkatan dan penurunan, kekuatan dan kelemahan dalam perilaku seseorang yang bisa berubah-ubah keadaannya, namun kekhususan-kekhususan al-Qur’an dalam konteks ta’bir ini akan tetap eksis pada satu rangkaian dan satu tingkatan, stabil dan tidak akan terbelakang, yang menunjukkan pada sumbernya yang tidak akan berbeda-beda keadaannya (konstan).
- Dia merupakan mukjizat dalam bangunannya, dan dalam keteraturan dan saling melengkapi antar bagian-bagiannya. Maka, tidak ada kesalahan dan kerancuan (kontradiksi) di dalamnya. Setiap taujihat (arahan-arahan)nya akan saling bertemu, tersusun rapi, dan saling melengkapi, serta meliputi kehidupan manusia, mengupasnya secara tuntas, menjawab permasalahannya, dan memotivasinya, tanpa ada satu pun bagian dari manhaj sempurna ini yang bertentangan dengan bagian yang lain, dan tanpa ada sedikit pun darinya yang berbenturan dengan fitrah manusia, sekalipun fitrah manusia cenderung mengabaikannya. Semuanya diikat pada satu poros di dalam kesesuaian yang tidak mungkin terjangkau oleh pengalaman manusia yang terbatas. Dan, mesti harus ada pengetahuan bersifat komperhensif yang tidak terikat dengan waktu dan tempat, yang berada di dalam wilayah cakupannya dan peraturannya.
- Dia merupakan mukjizat dalam hal kemudahan untuk masuk ke dalam hati dan sanubari manusia, memegang kunci-kuncinya, membuka pintu-pintu penutupnya, menampung berbagai media perasaan/emosi dan reaksi di dalamnya, serta menangani berbagai kesulitan dan problematikanya secara luwes dan mudah lagi menakjubkan, juga dalam hal mendidiknya dan mengarahkannya sesuai manhajnya dengan melalui sentuhan yang paling lunak, tanpa ada kerumitan, ketimpangan, dan kesalahan. Dan, dia juga merupakan mukjizat dalam hal pemberitahuannya tentang perkara-perkara gaib yang ada di balik alam kasunyatan (alam realita), seperti alam malaikat, jin, hari akhir, serta hal-hal gaib yang telah lalu dan yang akan datang. Dan, apa yang tersingkap oleh ilmu manusia dari sejarah manusia, juga berbagai peristiwa yang menimpanya, akan membenarkan apa yang telah dibawa oleh Nabi yang ummi ini, yang tidak bisa menulis maupun membaca kitab.
- Dia merupakan mukjizat di dalam apa yang dikabarkan sebagai hakikat alam, yang tidak seorang pun manusia mendapat petunjuk untuk mengetahuinya, dan menyingkap sebagian rahasia-rahasianya, selain hanya satu hadis (perkataan) saja.
- Serta, dia merupakan mukjizat di dalam syariat dan hukum-hukumnya, yaitu dalam hal kesempurnaan, kemuliaan, kelayakannya bagi manusia sepanjang masa.
Mukjizat Ilmiah Di Dalam al-Qur’an
Yang menarik di dalam al-Qur’an ini adalah bahwa kemukjizatannya akan
selalu baru sepanjang zaman. Maka, setiap kaum akan sampai kepada
mereka al-Qur’an ini, sehingga mereka bisa melihat kandungannya dengan
mata penglihatan orang yang mencari ibrah dan mau membuka mata. Mereka
akan mendapati di dalamnya tanda-tanda dan bukti-bukti yang bisa
menguatkan bagi mereka bahwasanya al-Qur’an berasal langsung dari sisi
Allah Subhanahu wa Ta’ala.Sementara kita pada saat ini mampu menghasilkan ilmu-ilmu yang dapat menyingkap sesuatu yang merupakan bagian dari rahasia-rahasia alam. Maka, kita pun meneliti galaksi (tempat-tempat bintang), peredarannya, bentuknya, dan muatannya, sebagaimana para pakar meneliti proses penciptaan makhluk beserta rahasia-rahasia di balik makhluk-makhluk tersebut. Mereka meneliti atom dan sel tubuh, serta menyelami dasar bumi dan lautan. Namun, tiba-tiba kita dikejutkan oleh tesis yang menyatakan bahwa kebanyakan hakikat yang dicapai oleh para pakar tersebut setelah melalui berbagai kajian yang panjang dan jerih payah yang meletihkan ternyata telah dibicarakan atau telah disinyalir secara jelas oleh al-Qur’an al-’Adhim sebelumnya.
Semua inilah yang semakin menambah dan memperdalam keimanan, dan membuktikan bahwa al-Qur’an al-’Adhim ini diturunkan langsung dari sisi Allah, Dzat Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Al-Qur’an ini adalah perkataan/ucapan sekaligus perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan makhluk adalah buatan dan ciptaan-Nya. Maka, jika Sang Pencipta membicarakan ciptaan-Nya, dan menuturkan sesuatu dari hakikat makhluk ciptaan-Nya tersebut, maka sudah pasti akan terjadi persesuaian antara khabar qauli (berita yang bersifat ucapan) dengan khalq kauni (penciptaan yang bersifat alamiah). Karena, ucapan tersebut adalah ucapan Allah sendiri, dan ciptaan itu pun adalah ciptaan-Nya sendiri.” Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS.Al-”Araaf:54)
Sedangkan jiwa manusia akan sepenuhnya berserah diri manakala mengetahui rahasia-rahasia yang terlupakan yang tidak pernah diketahui oleh manusia sebelumnya. Kemudian, ternyata jiwa tersebut mendapati bahwa Nabi berkebangsaan Arab yang ummi, tidak bisa menulis, tidak bisa membaca, tidak pernah mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, dan tidak pernah belajar pada seorang guru dari keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalaam, membicarakan atau mensinyalir tentang hakikat ilmiah tersebut. Maka, kalau bukan al-Qur’an ini merupakan wahyu dari Sang Pencipta, niscaya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mampu menetapkan hakikat-hakikat samar ini, juga rahasia-rahasia tersembunyi yang tidak pernah diketahui oleh manusia sebelum masa ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang memgingkari(mu).” (QS. Al-’Ankabuut:48)
Pendeta Nasrani Menggunakan Teks-Teks Ilmiah Di Dalam Kitab Taurat Untuk Mengajak Orang-Orang Komunis Masuk Agama Nasrani
Seorang pendeta Nasrani telah menggunakan metode ini dalam mendakwahkan agama Nasrani. Pernah terdapat 12 mahasiswa berasal dari China yang belajar di universitas California, USA, menghadap kepada seorang pendeta yang bernama Barkeley, dan meminta kepadanya agar menyusunkan jadwal kajian mereka seputar agama Nasrani pada hari-hari minggu. Tujuan mereka di balik semua itu, adalah untuk mengenal seberapa jauh pengaruh agama terhadap kebudayaan Amerika.
Lalu, pendeta tersebut memanggil seorang ilmuwan pakar matematika dan astronomi yang bernama Prof. Peter dan Stoner, dan meminta darinya agar menangani masalah pengajaran terhadap para pemuda China tersebut.
Selanjutnya, guru besar dalam bidang matematika dan astronomi ini memilih pembahasan sifr at-takwiin (bagian kitab perjanjian lama tentang penciptaan) dari kitab Taurat. Di dalam pembahasan ini terdapat beberapa maklumat (data) yang membicarakan tentang permulaan alam (kosmos). Sang professor ini tidak mengajarkan Taurat kepada mereka dengan metode tradisional (konvensional), dan dia bersama sejumlah mahasiswa China tersebut menghabiskan musim dingin untuk mempelajari berbagai data tersebut, lalu mereka mencatat dalam setiap kajian tersebut berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak fikiran mereka seputar apa yang mereka dengarkan. Setelah itu, mereka merujuk kepada kitab-kitab ilmiah yang ada di perpustakaan universitas untuk meneliti kebenaran yang telah dibicarakan oleh sifr at-takwiin ini. Yaitu, sebuah tahapan yang merujuk kepada kehidupan sehari-hari Nabi Musa ‘Alaihissalaam sebelum beberapa ribu tahun yang lalu. Dan, setelah melakukan berbagai kajian panjang secara kontinyu, para mahasiswa tersebut akhirnya memeluk agama Nasrani. [2] . Cobalah tengok peristiwa ini di dalam kitab “Al-Islaam Yatahaddaa” karangan Wahiduddin Khan, hal. 121, dan penulis telah menukil dari pengarang kitab tersebut di dalam kitabnya, ” The Evidence of God” P.P. 137-38.
Kita hakikatnya mengimani kitab Taurat dan Injil. Namun, ternyata teks-teks yang terkandung di dalamnya telah banyak mengalami perubahan, penyelewengan, dan penggantian redaksi, yaitu akibat upaya penerjemahan yang dilakukan secara terus-menerus dari satu bahasa ke bahasa lainnya, dan karena ulah tangan para ulama sesat yang telah menyelipkan/memasukkan di dalam kedua kitab ini sesuatu yang bukan darinya, dan sebaliknya mereka membuang dari keduanya teks-teks yang tidak berpihak kepada mereka. Maka, selebihnya adalah kebenaran yang masih tersisa di dalamnya bercampur dengan banyak sekali kebatilan. Sedangkan al-Qur’an adalah kitab samawi yang terakhir, yang tidak pernah berubah-ubah dan berganti-ganti redaksi, dan hakikat-hakikat alam yang terkandung di dalamnya pun sangat banyak dan terbukti kevalidannya.
Beberapa Contoh Dari Kemukjizatan Ilmiah Di Dalam Al-Qur’an
Sebenarnya tulisan dalam konteks semacam ini telah banyak ditulis. Namun, di sini, saya akan menyebutkan beberapa contoh saja. Diantaranya:
- Tahapan penciptaan janin. Al-Qur’an menguraikan tahapan-tahapan ini
secara terinci dan akurat, dan tidak ada diantara para ulama yang pernah
mengetahui rincian-rincian ini selain baru-baru ini saja.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
” Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari seumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu.” (QS. Al-Hajj:5)
” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minuun: 12-14)
Cobalah kamu merujuk kepada sumber-sumber medis yang membahas tentang penciptaan janin, apakah kamu menemukan di dalam apa yang telah dikatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita tersebut, sesuatu yang bertentangan dengan hakikat-hakikat yang telah disebutkan oleh Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui ini? - Kotoran yang terdapat di dalam darah haidh. “Mereka bertanya
kepadamu tentang haidh. Katakanlah:”Haidh itu adalah suatu kotoran”.
Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. ” (QS.
Al-Baqarah:222).
Bagi para ilmuwan zaman sekarang telah nyata/terbukti, bahwa darah
haidh merupakan darah rusak, yang mengandung banyak virus dan berbagai
macam bakteri (kuman). Jika seseorang lelaki menggauli istrinya di
tengah-tengah masa haidh, maka dikhawatirkan dia akan terkena peradangan
dan penyakit-penyakit yang akan menyiksanya.
Di samping itu, alat kelamin (organ seksual) pada wanita tersebut akan terinjeksi sewaktu haidh, khususnya rahim yang akan terinjeksi sampai mengalami hemophilia (kehabisan darah). Jika seorang lelaki menggauli istrinya, maka itu akan berakibat terkoyaknya dinding-dinding rahim wanita, hingga tersebarlah penyakit menular melalui berbagai virus yang ada pada dinding-dinding tersebut ke bagian-bagian tubuh lainnya, yang mana itu sangat berpengaruh pada kesehatan wanita tersebut. Kemudian, di sana juga terdapat kotoran dari jenis ketiga, yaitu gangguan psikis yang akan menimpa kedua pasangan suami-istri tersebut. Maka, kebanyakan lelaki dan perempuan akan dirundung rasa ketakutan dan kepanikan jiwa (nervous), yang akan berakibat pada penyakit lemah syahwat yang terkadang sangat parah. - Tempat urat-urat saraf yang akan merasa (sakit) bila terbakar dan tertimpa musibah. Urat-urat saraf ini hanya berada di dalam kulit saja. Karenanya, kalau seandainya usus-usus manusia diputus setelah dibelah perutnya, maka dia tidak akan merasa usus-ususnya terputus. Dan, al-Qur’an telah mensinyalir hakikat ini di dalam firman Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa:56) Dan, tidak bertentangan dengan semua ini dengan adanya manusia yang merasakan dingin dan panas di dalam usus-ususnya. Karena, yang ada di dalam kulit adalah urat-urat saraf yang merasakan sakit karena tertimpa musibah dan kebakaran. Sementara, di sana masih terdapat banyak sekali urat-urat saraf lainnya yang tersebar di dalam anggota tubuh manusia.
- Alam yang membentang luas, “Dan langit itu Kami bangun dengan
kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS.
Adz-Dzaariyaat:47)
Kalangan mereka yang tidak pernah membaca al-Qur’an, namun mengkaji
tentang ciptaan/makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan saling
bertanya-tanya, “Apakah bentuk ruang angkasa yang meliputi kita ini?”
Dan, sebagai jawaban dari pertanyaan ini, mesti dikatakan bahwasanya
ruang angkasa tidak mempunyai bentuk tertentu, mengingat dia akan
terus-menerus mengalami perluasan.
Berkaitan dengan pembahasan ini, DR. Eddington berkata, “Bisa saja kita memberi perumpamaan pada bintang-bintang dan galaksi, dan seolah-olah mereka berdiri di atas permukaan balon karet yang ditiup secara terus menerus. Dan begitulah, bahwasanya benda-benda langit ini akan menjauh dari sebagian benda langit lainnya lebih banyak dan lebih banyak lagi, akibat adanya proses penggelembungan. Seperti suatu unsur yang terlepas dari gerakan-gerakan yang biasanya, dan dari ekses-ekses yang ditimbulkan oleh adanya daya gravitasi diantaranya.”
Dan, setelah perkataan Prof. Eddington ini, seseorang bernama Julian berkata, “Alam ini memiliki kecenderungan alamiah untuk bertambah luas/lebar, yang kira-kira bisa menandingi daya gravitasi yang terdapat dalam suatu materi (benda)…. Sesungguhnya separoh wilayah ruang angkasa pada saat ini, tidak kurang dari sepuluh kali lipat dari separoh wilayahnya yang asli, menurut hitungan-hitungan Professor (Eddington). Dan, jumlah luas yang sebenarnya akan bertambah secara terus-menerus, …. Sedangkan jumlah pertambahannya ini akan membesar pada waktu-waktu mendatang.” [3] - Matahari yang berjalan di ruang angkasa. Sebelumnya terdapat dugaan kuat bahwasanya matahari berputar mengitari bumi, lalu belakangan terbukti oleh para ilmuan bahwasanya bumilah yang berputar mengitari matahari. Namun, para ilmuwan tersebut telah membuat kesalahan ketika mereka mengklaim bahwasanya matahari tersebut diam (tidak bergerak). Terakhir kali, nyatalah bagi mereka bahwasanya matahari berjalan dengan kecepatan yang luar biasa. Dan, ungkapan yang paling sesuai berkenaan dengan gerakannya ini, adalah “berlari”. Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika mengatakan, “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yaasiin:38)
- Di dalam madu terdapat kesembuhan bagi manusia. Belum sampai tiga puluh tahun lamanya, di Amerika beredar isu bahwasanya madu bisa menularkan kuman (bibit penyakit). Dan, bahkan belum terlihat manfaat-manfaat madu secara medis oleh para ilmuan, kecuali baru-baru ini saja. Dan , kini, madu terdapat di dalam lebih dari lima puluh obat, dan telah terbukti bagi para dokter bahwasanya madu bisa membunuh kuman. Maka, tidak ada satu pun kuman yang bisa hidup di dalamnya. Juga, telah terbukti bagi mereka bahwasanya madu merupakan obat yang bagus bagi umumnya jenis penyakit, seperti kekurangan darah (anemia), penyakit paru-paru, penyakit alat/saluran pernafasan, penyakit mata, penyakit kulit, dan masih banyak lagi yang lainnya. [4] Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika mengatakan,”Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

